DAPATKAN POTONGAN HARGA 20% UNTUK PEMBELIAN MINIMUM 350K

EN   ID
Search Herbana
Keranjang (0) IDR 0
EN   ID
Health 9 October 2020
Oleh: Natasha Tanga

5 Alasan Mengapa Konsumsi Makanan Instan Memiliki Efek Kurang Baik Bagi Kesehatan 

BACA JURNAL

Banyak orang yang menyukai makanan instan karena harganya yang murah, rasa yang gurih, dan waktu persiapan yang cepat. Meski begitu, seperti hal-hal instan lainnya, makanan instan seringkali memilki efek yang kurang baik bagi kesehatan. Dalam jurnal minggu ini, kami akan menjelaskan beberapa alasan mengapa konsumsi makanan instan dapat mengganggu kesehatan, terutama apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.

1. Kandungan garam yang tinggi

Seperti kebanyakan makanan olahan, makanan instan memiliki kandungan sodium yang tinggi. Seringkali, kandungan ini tertulis pada tabel kandungan nutrisi di kemasan. 

Meskipun tubuh memerlukan sodium untuk berfungsi dengan baik, konsumsi sodium yang berlebih justru dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 menunjukkan bahwa konsumsi sodium yang tinggi dapat meningkatkan resiko meningkatnya tekanan darah, penyakit jantung, stroke, hingga kematian.

2. Mengandung bahan penyedap dan pengawet

Makanan instan juga mengandung banyak bahan tambahan, termasuk penyedap seperti MSG (monosodium glutamat). Meskipun banyak dipakai dalam pembuatan berbagai bahan makanan dan cukup aman apabila dikonsumsi dalam jumlah wajar, MSG dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Hal ini termasuk meningkatkan resiko obesitas. Pada individu yang sensitif, konsumsi MSG dapat menyebabkan sakit kepala, mual, tekanan darah tinggi, kaku pada otot, hingga nyeri dada. Meski begitu, hal ini jarang terjadi apabila MSG dikonsumsi dalam batas wajar.

Butylated hydroxyanisole (BHA) dan t-butylhydroquinone (TBHQ) juga seringkali digunakan dalam pembuatan makanan instan. Peran keduanya sebagai pengawet memperpanjang waktu kadaluarsa produk tersebut. Namun, bahan-bahan ini juga dapat menyebabkan kanker, serta menyebabkan diare dan ketidaknyamanan pada saluran pencernaan apabila terpapar untuk waktu yang lama.

3. Lambat dicerna tubuh

Beberapa studi telah menunjukkan bahwa makanan instan dicerna dalam waktu yang cukup lama, dan memiliki efek yang tidak sama dengan saat mengonsumsi karbohidrat kompleks. Makanan olahan pada umumnya memaksa saluran pencernaan untuk bekerja lebih keras.

4. Mengganggu metabolisme tubuh

Makanan instan dibuat dari bahan-bahan yang cenderung juga mengalami pengolahan. Misalnya saja, cara pembuatannya mi instan yang melalui langkah penggorengan, menyebabkannya mengandung lemak jenuh yang tinggi. Satu bungkusnya biasanya mengandung 14 gram lemak jenuh, sekitar 40 persen dari jumlah konsumsi harian yang direkomendasikan.

Oleh karena itu, riset telah menunjukkan bahwa individu yang sering mengonsumsi makanan instan dapat beresiko mengalami gangguan metabolisme, terutama wanita. Hal ini termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, stroke, serta resiko tinggi terkena penyakit jantung.

5. Mengandung nutrisi yang rendah

Umumnya, makanan instan mengandung kalori yang banyak, namun sedikit nutrisi yang dikandungnya. Misalnya seperti protein, serat, vitamin, serta mineral. Makanan instan juga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi apabila anda sedang berusaha menurunkan berat badan, karena rendahnya nutrisi yang dikandung, seperti protein dan serat, tidak dapat memberikan rasa kenyang untuk waktu yang lama. Selain itu, konsumsi serat yang minim juga dapat menyebabkan sembelit dan mengurangi bakteri baik dalam saluran pencernaan.

Beberapa orang mencoba untuk mengkompensasi kekurangan ini dengan menambahkan bahan-bahan seperti sayuran. Meski begitu, usaha meningkatkan nutrisi ini kemungkinan tidak cukup untuk mengurangi efek kesehatan yang ditimbulkan konsumsi makanan instan dalam jangka waktu yang berkepanjangan.

OK
OK